Dicabut Bikin Ngilu, Dibiarkan Kepala Ngelu | Madura TIMES
*dd nana

Dicabut Bikin Ngilu, Dibiarkan Kepala Ngelu

Apr 05, 2018 09:51
Ilustrasi dan tidak (sumpah) ada hubungannya (Ist)
Ilustrasi dan tidak (sumpah) ada hubungannya (Ist)

Buah Simalakama. Begitu mungkin peribahasa yang sering kita gunakan dalam menggambarkan kondisi seperti dalam judul di atas. Di makan ayah mati,  tidak di makan ibu yang kena. 

Dicabut bikin kepala ngilu (baca: sakit), dibiarkan terus kepala juga ngelu (di baca sama dengan di atas). Anda bisa bayangkan bagaimana rasanya kepala yang seperti itu ?

Maka,  saya selalu kagum dengan kepala-kepala yang di posisikan seperti peribahasa di atas itu. Bagaimana tidak, mereka saya anggap adalah manusia-manusia setengah dewa lo. Yang kepalanya mampu menahan rasa ngilu dan ngelu setiap detik. Dan kepala-kepala itu harus selalu dalam posisi seperti itu  selama lima tahun. 

Lima tahun lo bro. Saya yang hanya merasakan hitungan menit aja dalam kondisi tersebut,  tidak pernah kuat dan akhirnya terkapar lemes,  sebelum menyerah pada lelap. Tentunya setelah saya cabut dulu. Cabut dari rasa ngilu dan ngelu,  tentunya. 

Nah,  orang-orang yang saya anggap setengah dewa tersebut (saya sebut begitu karena mereka hidup di istana,  punya pengawal yang siap 24 jam serta fasilitas aduhai) adalah mereka para pengambil kebijakan di negeri yang katanya gemah ripah repeh rapih loh jiwani ini. 

Karena setengah dewanya inilah mereka harus berada di posisi yang saya sebutkan dalam judul di atas. Setiap kebijakan yang mereka ambil menentukan ratusan juta orang yang di pimpinnya. Salah satu (kalau salah banyak kasihan, seperti kejadian di Kota Malang) kebijakan yang diperibahasakan buah simalakama tersebut adalah subsidi. Dicabut bikin ngilu,  dibiarkan kepala mereka ngelu. 

Kok bisa seperti itu? Amat sangat bisa. Kenapa? Karena namanya subsidi ini seperti syahwat yang terus meminta karena sudah dibiasakan diberi. Rasa enak dan nyaman atas apa yang didapat tersebut, tentunya akan dipertahankan sedemikian rupa. Bahkan kalaupun objek rasa enak dan nyaman tersebut bukan haknya,  masa bodo aja. "Gue juga manusia dan bagian dari rahayat kok, ". Mungkin begitu ucap mereka yang ikut serta menyusu pada subsidi yang  ditelurkan kepala-kepala manusia setengah dewa itu. 

Makanya kenapa saya sebutkan subsidi ibarat syahwat. Karena saat rasa enak sudah menetap dan dirasa belum cukup direguknya,  walau bukan muhrimnya (baca haknya) akan terus dilanggengkan setiap saat. Dicabut bikin ngilu,  enggak dicabut kepala ngelu. 

Namanya syahwat ini juga memiliki kelasnya masing-masing. Ada yang berhasil memanajemennya,  sehingga orang ini tidak akan mencicipi apalagi sampai mau menyesapnya terus menerus sesuatu yang bukan haknya. Kebanyakan kebablasan,  dengan alasan, "Gue juga rahayat, ". 

Berhadapan dengan orang-orang di kelas ini yang membuat kepala para setengah dewa bisa dibuat pening. Atau sebaliknya. Malah menikmati sensasi dicabut ngilu ini yang akhirnya mending dibenamkan saja sekalian sampai kepala ngelu-ngelu sedap. 

"Di cabut pasti heboh ini. Akan ada aksi demo besar-besaran, ganti skema saja,  tapi jangan dicabut, " mungkin begitulah kata para kepala setengah dewa yang memang (mungkin) lebih takut pada penilaian orang banyak,  dibanding dengan kondisi keuangan yang semakin menipis di saku ibu pertiwi. Bahasa zaman Now-nya, pencitraan lebih penting di banding pencerahan. 

Makanya,  jangan heran kalau yang namanya orang miskin akan terus ada dengan grafik warna warni yang menyolok mata. Indikator dan  angka orang miskinnya disesuaikan dengan berbagai program yang ada. Makanya yang kedua jangan heran kalau angka kemiskinan di setiap lembaga juga berbeda-beda. Dan subsidi pun terus dijaga di berbagai sektor kehidupan masyarakat banyak. 

"Lo ini sebagai bentuk kewajiban negara kok membantu masyarakatnya. Ini kan baik dan memang patut dilestarikan, " ujar salah satu manusia setengah dewa yang cepat saya menganggukkan kepala,  menyepakati omongannya. 

Saya menganggukan kepala saya yang tidak terlalu kuat kalau tidak dicabut setelah pening dan muntah-muntah in. Karena saya tahu banget,  kalau orang miskin memang wajib untuk dilindung. Terutama dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Subsidi listrik, elpiji, pendidikan,  kesehatan, permukiman dan sebagainya adalah kewajiban negara untuk memenuhinya. 

Sayangnya,  sekali lagi sayangnya, para kekasih Tuhan ini kerap dicederai oleh sesamanya yang lebih beruntung secara ekonomi. Perebutan subsidi kerap terjadi. Yang miskin tetap miskin,  karena kalau diajak bertarung dengan yang kaya pasti kalahnya. Sosial ekonomi mereka lebih segalanya,  mungkin masalah hati dan kedekatan sama pencipta yang bisa dimenangkannya (mungkin lo ini). 

Hal ini juga yang akhirnya membuat para manusia setengah dewa kepalanya dibuat setengah nikmat,  setengah sakit juga. Mereka memahami puluhan mungkin ratusan triliun anggaran setiap tahun terkuras dan tidak tepat sasaran di lapangan. 

Tapi untuk mengurainya bukan hal mudah. Karena ini sudah menjadi kebiasaan yang  terjadi puluhan tahun dan dinikmati juga oleh warga kaya. Ganti cara atau skema mungkin bisa merubahnya,  walaupun kenyataannya masih banyak kartu-kartu sakti para manusia setengah dewa ini juga tidak tepat sasaran. 

Apa tidak bikin kepala ngelu? Dicabut siap-siap di bully ratusan juta warga,  dipelihara menjadi bumerang di masa depan. 

*Penikmat kopi lokal gratisan 

Topik
Berita Malang

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya