Cara Aman Nyimpan Uang Ala Perempuan Masa Lalu | Madura TIMES

Cara Aman Nyimpan Uang Ala Perempuan Masa Lalu

Apr 03, 2018 09:09
Begini cara menyimpan uang yang buat saya rindu (Ist)
Begini cara menyimpan uang yang buat saya rindu (Ist)

Tetiba saya ingin bernostalgia. Tentunya dengan masa kecil saya dulu. Saat listrik belum masuk desa, permainan kanak-kanak kolektif dengan alat-alat yang ada disekitar, sampai pada bagaimana cara menyimpan uang dari hasil saya berdagang sebelum sekolah. 

Saya tidak akan menuliskan bagaimana serunya tidak ada listrik dulu atau bagaimana serunya permainan pedang-pedangan atau main tembak-tembakan yang dibuat sendiri dari pohon bambu yang banyak tumbuh di desa. Atau main gobak sodor,  petak umpat, sampai kucing-kucingan (anda pernah mengalaminya?). 

Yang saya akan tulisan adalah mengenai ingatan saya terhadap cara menyimpan uang yang dulu sangat berharga sekali. Bayangkan saja dengan uang lima rupiah,  bisa untuk membeli satu bungkus nasi dengan cah kangkung,  sambel, suwiran telor dan ikan asin. Itu pun masih ada kembaliannya lo (anda pernah mengalaminya?). 

Dulu, saya kerap takjub dengan nenek saya saat menyimpan uang. Bagaimana tidak takjub? Uang yang dimilikinya bisa masuk, menetap dan keluar dari belahan dadanya. Tidak di dompet apalagi di bank yang beberapa pekan kemarin telah membuat masyarakat pemilik uang resah. Takut uangnya dibobol para pencuri yang dengan canggihnya menyadap ATM nasabah di berbagai daerah. 

"Ini tempat paling aman nyimpen uang,  cu. Nempel di dada dan tidak akan ada yang mau mencurinya, " ujar nenek atau si mbah saya dulu (saya translate omongan sundanya). 

Saya terpesona. Betapa hebatnya tempat nyimpen uang si Mbah saya itu. Betapa tidak hebat,  la wong saya nyoba berkali-kali tidak bisa. Uang recehan hasil berjualan setiap pagi sebelum sekolah,  selalu berjatuhan. Saat saya mencoba cara si Mbah nyimpen uang di belahan dadanya. 

Saat saya sedikit besar (ya sudah baleg lah),  saya juga melihat para tetangga sejenis si Mbah. Mereka juga menyimpan uangnya di belahan dada mereka. Mata saya tambah takjub saja. Mencoba berimaji bagaimana posisi  uang yang begitu antengnya di dompet hidup tersebut. Para uang itu seperti kerasan banget menetap,  walaupun akhirnya nanti dikeluarkan lagi dari tempatnya itu. Saya jadi ingat sebuah frasa, "tidak ada yang kekal menetap di sebuah daging. Selalu ada akhir, ". Begitulah salah satu pelajaran yang saya dapatkan dari cara menyimpen uang para perempuan dulu yang usianya sangat matang dari saya,  dulu. 

Saat ada propaganda,  simpanlah uang anda  di bank. Aman, terjamin dan menguntungkan. Saya mulai kehilangan imajinasi saya tentang kearifan masa lalu para perempuan memperlakukan uang. Apalagi saat dompet diciptakan secara massal. Habislah sudah imajinasi saya setiap kali menatap para perempuan,  dulu, menyimpen uangnya itu. 

Padahal,  saya sudah punya rencana untuk mencuci otak pacar kecil saya dulu. Kalau nyimpen uang ikuti para perempuan terdahulu. Buyar sudah fantasi saya mengenai sumber kehidupan yang dicipta Tuhan dan dinamakan dada bagi laki-laki dan bagi perempuan redaksinya adalah payu dan dara. 

Padahal, pelajaran kedua yang saya dapatkan dari cara nyelempitin uang di belahan payu dan dara para perempuan dulu adalah tentang rasa cinta. Pasti anda bertanya, "Apa hubungannya brow?, ".  Yo,  pasti ada lah. Makanya saya tulisankan tentang itu. 

Hubungannya uang dan payu-nya dara ini adalah sama-sama sebagai sumber hidup manusia. Uang sejak zaman kuno sampai saat ini menjadi bagian penting kalau tidak maha penting (uang jadi tuhan) manusia. Demi uang manusia bisa jadi homo homoni lupus. Saling terkam dan makan,  bahkan untuk uang puluhan atau ratusan ribu bisa membuat manusia tega membunuh sesamanya. Kecintaan manusia terhadap uang (mungkin) lebih besar terhadap Tuhan. 

"Kayak lo kan? Kalo sudah ngejar uang telinga tertutup dari adzan,  iqomah. Mbulet ae urusan dunia. Ia kan? Ngaku aja lo, " serobot uang zaman dulu yang menetap di belahan payu para dara eh perempuan waktu itu. 

Nah, Jawaban pelajaran kedua saya adalah kenapa saya takjub dulu pada para perempuan dengan cara menyimpan tuhan kecil bernama uang di selempitan dada mereka karena mereka memahami betul kekuatannya. Untuk menaklukkan kuasa uang hanya HATI lah yang mampu. Makanya,  mereka menyimpannya di belahan dada yang di dalamnya terdapat hati. Netralisir kuasa jahat uang,  begitulah kira-kira. 

Maka,  dulu walau punya uang sedikit, hidup begitu nyaman dan bahagia. Sekarang,  walau uang bertumpuk-tumpuk di brankas, di berbagai bank dalam dan luar negeri,  tidak membuat para pemiliknya nyaman. Apalagi bahagia. Buktinya mereka semakin rakus menguras berbagai hal yang menghasilkan uang. Yang baru jadi orang juga akhirnya begitu. Berlomba-lomba menimbun uang walau harus dengan korupsi,  misalnya. 

Coba kalau mereka meniru para perempuan dulu atau si Mbah saya menyimpen uang. Tentu tidak akan seperti itu. Setuju brow??? 

*Penikmat kopi lokal gratisan

Topik
opini pagi Cara Aman Nyimpan Uang

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya