Selembut Sutra, Sepanas Bara, di Celah Dinding Kontrakannya Enny Arrow  | Madura TIMES
Enny Arrow VS Video Porno, Dahsyat Mana?  2

Selembut Sutra, Sepanas Bara, di Celah Dinding Kontrakannya Enny Arrow

Mar 23, 2018 09:36
Ilustrasi: Penulis iseng (dd nana)
Ilustrasi: Penulis iseng (dd nana)

Selembut Sutra, Sepanas Bara, di Celah Dinding Kontrakannya Enny Arrow 

*dd nana

... Ini lanjutan tulisan tentang Enny Arrow versus video porno. Sebelum penulis lupa untuk melanjutkannya. 

Satu pertanyaan sudah pernah membaca karya Enny Arrow dengan judul di atas? Kalau yang pernah pasti masih bisa mengingatnya dalam samar-samar ingatan. Karena penulis percaya, tidak ada yang hilang saat sesuatu mengendap di pikiran. Baik teks, gambar yang pernah menjadi peristiwa dalam siklus kehidupan manusia. Misalnya, mantan tercinta yang sudah pergi entah ke pelukan siapa. Akan tetap menetap di alam (bawah) sadar dan dibawa kemana pun kita pergi. Tidak percaya? tanya kepada yang pernah memiliki mantan.

Saya samar masih mengingat, dalam cerita Selembut Sutera dengan dua tokoh rekaan Enny Arrow yaitu Benny dan Aningsih. Kedua tokoh yang merasa hampa dengan percintaannya dengan pasangannya masing-masing. Takdir mempertemukan mereka di Taman Ria Remaja Senayan, Jakarta.

Dua manusia yang ditinggal oleh kekasihnya (jadi ada kaitan dengan paragraf ke dua tentang mantan, kan?) saling curhat sampai akhirnya berjanji ketemuan. Saat Benny ke rumah Aningsih, di halaman ini kita akan disuguhi ciri khas stensilannya Enny Arrow yang sangat populer di tahun 1980-1990-an. Dekapan, kecupan sampai pada adegan ranjang dideskripsikan secara detail. Penggambaran bentuk tubuh serta organ vital laki-laki dan perempuan plus berbagai kata penguat imajinasi semakin melonjak-lonjak, seperti, kok enakkkh, sihhhhh,. Atau, pelan-pelannn, sayanghhh....

Mohon di baca lagi Petunjuk Keamanan di seri (1) ya. Penting.

Di buku lainnya, Sepanas Bara dan Dicelah Dinding Kontrakan, tidak jauh berbeda. Imajinasi Enny Arrow begitu mahir mengobrak-abrik fantasi pembaca. Mohon maaf saya tidak akan melukiskan rentetan cerita di atas. Bisa-bisa saya kena UU ITE atau dianggap penerus Enny Arrow yang sampai saat ini tidak diketahui siapa sebenarnya dirinya.

Lantas, kenapa bisa sebuah kalimat bisa membuat imajinasi seseorang bisa begitu merdeka. Walau merdeka di dalam pikiran saja, karena kalau merdeka yang satu ini dirayakan di luar akibatnya bisa sangat berabe. Selain akan jadi amuk massa, siap-siap saja berhadapan dengan pihak berwenang. Kita bisa lihat hasil kemerdekaan dalam konteks tersebut saat teknologi kian gagah berdiri. Seperti rudal para tokoh lelaki dalam Enny Arrow yang membuat pasangannya (baik pacar maupun selingkuhannya) ketagihan.

Menurut beberapa pendapat para pakar yang saya lupa namanya, jadi mohon maaf saya pakai analisis sendiri. Imajinasi akan terstimulus sangat cepat pada saat nir. Terutama nir-lawan dari teks si Enny yang lihai memainkan aksara tentang seks dan persetubuhan secara detail. Nir-lawan inilah yang membuat stensilan mesum si Enny menjadi barang paling diburu pada zamannya. Berapa pun harganya, ditebas saja oleh para pembeli. Pun, betapa sulitnya untuk mendapatkan buku tersebut, mereka akan maju tak gentar mencari stensilan.

Kalaupun ada lawan pada saat itu, seperti novel Nick Carter atau buku tentang tema yang sama, Enny tetap yang menjadi primadonanya. Karena hanya si Enny yang misterius inilah yang dengan detail bertutur tentang persetubuhan dan eksploitasi tubuh. Apalagi, misalnya lawannya sastra erotis seperti Kama Sutra karya Vatsyayana, The Decameron-nya Giovanni Boccaccio. Atau buku Fanny Hill berjudul Memoirs of a Woman of Pleasure, Tropic of Cancer karangan Henry Miller maupun Lolita karya novelis Vladimir Nabokov. Jauh banget dengan stensilan Enny. Jauh kualitasnya maksud saya, tapi menang dalam memberikan ruang hiburan begituan di tengah ketidakadaan ruang lainnya.

Jadi kalau urusan yang lembut-lembut serupa sutera tapi bisa membakar sepanas bara apalagi bagi anak-anak yang disekat dinding kontrakan zaman dulu, Enny Arrow adalah hiburan paling jenius dan mudah dicerna untuk melepaskan beban hidup. 

Sampai kapankah stensilan Enny Arrow bertahan? Adakah lawan yang mampu membuatnya bertekuk lutut seperti para tokohnya yang akhirnya berujung di ranjang ini. Lanjutan tulisan ini bisa terus anda baca di hari berikutnya...(semoga yang nulis tidak lupa. Jadi saya akan menuliskan lagi kata to be continue...).

 

*Penikmat Kopi Lokal Gratisan

Topik
ruang sastra Enny Arrow

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya