Saya Sedih Maka Saya Menulis | Madura TIMES

Saya Sedih Maka Saya Menulis

Mar 20, 2018 08:34
ilustrasi : malangtimes
ilustrasi : malangtimes

*dd nana

Saya sedih maka saya menulis. Begitulah saya yang kini sudah tidak tertarik lagi melabuhkan kesedihan apapun kepada segala yang berlubang. Sebut saja botol atau pada setiap unsur kimia yang diekstraksi menjadi berbagai macam bentuk serupa permen berkilau. 

Atau pada secangkir kopi kental pahit. Sayang banget, karena kopi tidak tepat untuk dijadikan medium merayakan kesedihan. Apalagi yang saya sedihkan ini pembaca,  bukan yang dekat-dekat banget dengan kehidupan saya. Boro-boro menghidupi saya,  seperti orang tua atau karib tercinta yang entah kenapa selalu mengasihi saya. 

Tapi,  sumpah,  saya benar-benar sedih. Karena kesedihan,  kata saya sih, tidak hanya bisa dilahirkan dari orang atau benda yang dekat dan dicintai saja. Orang atau benda yang jauh banget dengan kita,  ternyata bisa juga membuat saya sedih. 

Karenanya,  saat saya sedih,  saya menulis. Bukan untuk mengoleksi rasa biru sentimentil yang nantinya akan menjadi curiculum vitae kesedihan (karena belum ada perusahaan  yang membutuhkan karyawan  dengan  CV kesedihan ). Tapi,  saya menuliskan kesedihan agar bisa naik derajat. 

Kok bisa sedih bisa menaikkan derajat, apalagi yang jadi objek tersebut bukan orang dekat? Mungkin begitu pertanyaan anda kepada saya. 

Jawabnya: Sangat BISA dong. 

Ini kan zaman milinial, dimana setiap rasa, apalagi sedih harus dipermak sedemikian rupa. Sehingga enak dilihat dan dibaca masyarakat luas di berbagai platform media sosial (medsos). Apalagi kalau kita menyedihkan sesuatu yang sedang viral,  baik orang maupun benda mati. 

Dari pada bingung,  saya kasih contoh  secepatnya deh. Kalau anda sedih melihat para tokoh politik yang  jadi pemimpin wilayah ditangkapi KPK, terus menuliskan kesedihan tersebut di medsos,  maka derajat sedihnya naik. 

Daripada anda menuliskan rasa sedih diputus kekasih atau lagi bokek banget. Paling-paling malah di bully habis-habisan atau jadi bahan tertawaan.  

Contoh menuliskan sedih melihat para pemimpin dicidukin KPK,  misalnya seperti ini :" Duh Tuhan sedih banget saya melihat bapak A ditangkap KPK saat mereka akan berlaga jadi pemimpin lagi. Kok ya enggak dari dulu-dulu ditangkapnya. Terus gimana kelanjutan pembangunan yang belum rampung,  dan dijanjikan selesai saat dia memimpin lagi. Kan kasihan tuh warga yang sudah berharap dan menunggu. Saya sedih... ". 

Atau, "Kok bisa lo bapak itu  di ontang anting KPK.  Padahal kan maksudnya baik si bapak itu. Agar masyarakatnya senang,  minimal lima tahun sekali. Kok malah ditangkap. Kalau bagi-bagi proyek setelah menang, ya wajar saja lah,  kan negara juga enggak biayai duit bapak itu untuk menang. Saya sedih deh... ". 

Itu contoh tulisan sedih yang akan membuat anda dilirik atau akan dikasih jempol di medsos. Kalau pun jempol e mengarah ke bawah pun atau di bully, tetap saja sedih anda bisa menarik perhatian orang dengan komennya itu. 

Coba bandingkan dengan anda menuliskan kesedihan karena tidak punya uang. Misalnya, "ya Alloh aku enggak duwe duit. Padahal bentar lagi di tagih utang. Mbok yo Tuhan aku dikasih uang. Aku sedih lo Tuhan... ". 

Coba apa tulisan itu akan dapat respon banyak atau enggak oleh para penggiat medsos? Paling-paling kalau ada  yang kasihan akan nulis seperti ini, "Emang lo doang yang butuh duit. Ngepet sana lo... ". Atau, "EGP coiii.. ". Tambah sakit kan? 

Sudah sedih,  nulis lagi. Balasannya juga memiriskan hati. Ibarat borok di lutut disiram air garam (Udah pernah nyoba? Periiiihhh banggett loo). 

Oleh karena itu,  agar sedih anda lebih memiliki derajat di medsos,  tolong jangan umbar sedih-sedihan diri (film india saja bisa move on dari sedih-sedihan begitu). Fokuskan tulisan kesedihan anda terhadap hal-hal yang berhubungan dengan yang besar-besar,  yang viral,  yang bombastik. Ya kayak kepala daerah diciduk KPK (Ayo viralkan sedihmu) atau saat Trump dengan gagahnya melalui twitter melakukan kebijakan proteksi perdagangan. 

Makanya,  ijinkan saya menuliskan kesedihan saya tentang hal itu. Tanpa puisi,  bunga atau kopi. Selamat menuliskan kesedihan kawan semua. Viralkan Kesedihanmu!!!. 

*Pecinta kopi lokal gratisan

Topik
puisi pendek ruang sastra

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya