Sampang Kota Bahari, Bukan Kota Banjir Setiap Hari | Madura TIMES
Banjir Sampang

Sampang Kota Bahari, Bukan Kota Banjir Setiap Hari

Feb 28, 2016 08:05
Rumah warga Sumenep yang Terendam Banjir.(Foto: Istimewa)
Rumah warga Sumenep yang Terendam Banjir.(Foto: Istimewa)

BARANGKALI kita masih ingat dengan banjir besar terjadi pada tahun 1921, tahun 1991, tahun 2002 dan 19 Desember 2013 mengakibatkan seluruh Kota Sampang dan sekitarnya tergenang air setinggi 1,5 – 5,5 m dengan debit banjir sekitar 542,12 m3/det.

Tentunya kita berharap, itu tak akan kembali terjadi. Namun, nyatanya, hari ini, 27 Februari 2015 kembali terjadi.

Barangkali, menjadi penting bagi pemerintah daerah kembali menanamkan rasa kepemilikan terhadap seluruh warga, masyarakat dan pelaksana pembangunan di Sampang. Rasa memiliki bahwa Sampang adalah tempat lahir dan tumpah darah yang harus dirawat dan dijaga.

Saya tidak ingin, semboyan Sampang sebagai kota Bahari diplesetkan menjadi kota Banjir Setiap Hari (Bahari). Sampang harus bebas dari banjir yang menakutkan dan mengotori. Sampang tetap dan harus Bersih, Agamis, Harmonis, Aman Rapi, dan Indah (Bahari).

Begitulah harapan saya terhadap Sampang yang saya cinta. Namun, ketika banjir kembali terjadi seperti sekarang ini, saya menjadi teringat pada Kaum Saba’.

Kaum Saba’ yang merupakan satu dari empat peradaban besar yang hidup Arabia Selatan. Kaum ini diperkirakan hidup sekitar sekitar 1000-750 SM dan hancur sekitar 550 M.

Namun, dalam kejayaan mereka, telah diberi hukuman cukup berat oleh Allah. Sebab, tidak mendengarkan peringatan Tuhan. Sudah tidak mengikuti Nabi dan tidak percaya lagi dengan kekuatan Tuhan.

Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran bahwa Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".

Dalam al-Quran pun dilanjutkan, Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS Saba' 15-17).

Kita semua berharap, banjir di Sampang bukanlah adzab dari Allah. Meski kita tidak tahu terhadap apa kesalahan yang dimiliki warga. Warga Sampang bukan kaum Saba’.

Warga Sampang adalah kaum yang selalu taat beribadah dan taqwa. Semoga ketaqwaan ini bukanlah lipstik belaka agar kita tidak sama dengan kaum Saba’ yang diberi adzab banjir oleh Allah SWT. (*)

Topik
Banjir Sampang

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya