Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Memoar Broken Strings Aurelie Moremans Viral, Ini Arti Grooming dan Tanda-tandanya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

12 - Jan - 2026, 19:02

Placeholder
Buku memoar berjudul Broken Strings yang ditulis aktris Aurelie Moremans. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Nama aktris Aurelie Moremans tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Perbincangan itu muncul setelah Aurelie merilis buku memoar berjudul Broken Strings yang ia bagikan secara gratis dan dapat diunduh melalui tautan di bio akun Instagram pribadinya.

Dalam memoar tersebut, Aurelie menuliskan pengalaman hidupnya yang personal. Ia bercerita tentang masa lalu ketika dirinya menjadi korban grooming atau manipulasi dalam sebuah hubungan. Ia juga menceritakan bagaimana berusaha bertahan dan menyelamatkan diri. 

Baca Juga : Penyakit Tak Selalu Berisik, RSI Unisma Dorong Kesadaran Cek Darah dan Urin Sejak Dini

Salah satu kisah yang diceritakan adalah saat Aurelie menjalin hubungan dengan pria yang usianya jauh lebih tua, ketika dirinya masih berumur 15 tahun, sementara sang pria berusia 29 tahun. Hubungan itu terjadi di awal karier Aurelie sebagai artis di Indonesia.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri. Ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban,” tulis Aurelie di akun Instagramnya, dikutip Senin (12/1/2026).

Pengakuan tersebut sontak viral dan menuai perhatian. Bahkan banyak warganet yang mempertanyakan soal apa sebenarnya grooming dan bagaimana tanda-tandanya? Berikut ini JatimTIMES ulas penjelasan lengkapnya. 

Apa Itu Grooming?

Dilansir dari National Office for Child Safety, grooming merupakan perilaku yang dilakukan secara sengaja untuk memanipulasi dan mengendalikan seorang anak, termasuk orang-orang di sekitarnya seperti keluarga, pengasuh, hingga jaringan pendukung lainnya. Tujuannya adalah untuk melakukan pelecehan atau kekerasan seksual terhadap anak. 

Dalam praktiknya, grooming tidak selalu langsung berujung pada pelecehan seksual. Namun, proses manipulasi dan pengendalian itu sendiri sudah dapat dikategorikan sebagai grooming, meski tindakan pelecehan belum terjadi.

Ada sejumlah tujuan yang biasanya ingin dicapai pelaku grooming, di antaranya:
• mendapatkan akses kepada anak atau remaja untuk melakukan pelecehan seksual
• memperoleh materi seksual anak atau remaja
• mendapatkan kepercayaan dan/atau kepatuhan korban
• menjaga agar korban tetap diam
• menghindari terungkapnya pelecehan seksual

Penting untuk dipahami, pelaku bisa saja melakukan pelecehan tanpa proses grooming, dan sebaliknya grooming bisa terjadi meski belum ada pelecehan fisik.

Adapun tindakan grooming sering dilakukan secara halus dan perlahan, sehingga sulit dikenali. Tak hanya anak atau remaja yang menjadi korban, orang tua, pengasuh, hingga orang terdekat korban juga kerap ikut dimanipulasi.

Dikutip dari Bravehearts, pelaku grooming sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, jujur, ramah, dan disukai banyak orang. Mereka tampak tulus meluangkan waktu untuk membangun kepercayaan, baik kepada korban maupun lingkungan sekitarnya.

Proses ini bisa berlangsung singkat, tetapi tak jarang memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tujuan akhirnya tetap sama, yakni mendapatkan akses tanpa pengawasan kepada anak dan memastikan korban tidak mengungkapkan apa yang dialaminya.

Dalam praktiknya, grooming dapat terjadi melalui beberapa tahapan. Namun, tidak semua tahapan selalu dialami korban, dan urutannya pun bisa berbeda-beda.
1. Menjadikan Anak atau Remaja sebagai Sasaran
Pelaku cenderung menargetkan anak atau remaja yang dianggap rentan, misalnya mereka yang terisolasi secara sosial, berasal dari kelompok terpinggirkan, atau tampak kurang percaya diri.

2. Membangun Kepercayaan
Pelaku berusaha tampil sebagai sosok yang dapat dipercaya, murah hati, dan penuh perhatian. Pemberian hadiah sering digunakan sebagai cara mendekatkan diri, tidak hanya kepada korban, tetapi juga keluarganya.

Baca Juga : Donald Trump Klaim Diri sebagai Presiden Sementara Venezuela Usai Penangkapan Nicolas Maduro

3. Isolasi
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku perlahan menjauhkan korban dari keluarga dan teman. Pelaku kemudian mengambil peran penting dalam kehidupan korban, baik secara emosional maupun praktis.

4. Seksualisasi
Pelaku mulai memperkenalkan konten, obrolan, atau perilaku seksual secara bertahap untuk menormalkan hal tersebut. Dari sini, pelaku bisa mendorong atau memaksa korban terlibat dalam aktivitas seksual, baik secara langsung maupun daring.

5. Kontrol
Kontrol dilakukan melalui kerahasiaan, rasa malu, ancaman, paksaan, atau manipulasi emosional. Pelaku bisa mengaku menyayangi korban, memberi hadiah, atau justru menjatuhkan hukuman untuk mempertahankan kendali.

Menyadari tanda-tanda grooming sejak dini penting untuk melindungi anak dan remaja. Korban bisa menunjukkan berbagai perubahan perilaku, seperti:
• memiliki hubungan sangat dekat dengan orang yang jauh lebih tua
• menerima hadiah atau uang dari seseorang yang tidak jelas asal-usulnya
• sangat tertutup soal penggunaan ponsel, internet, atau media sosial
• sering menghilang dalam waktu lama
• terlihat sangat lelah, termasuk di sekolah
• tidak jujur tentang dengan siapa dan di mana mereka berada
• menggunakan identitas baru atau memiliki ponsel baru secara tiba-tiba
• dijemput dari sekolah oleh orang yang lebih tua atau orang baru

Sementara itu, sifat manipulatif pelaku dapat membuat korban mengalami kebingungan, rasa bersalah, hingga distorsi cara berpikir. Dalam beberapa kasus, korban bahkan merasa memiliki ikatan emosional dengan pelaku dan ingin melindungi hubungan tersebut.

Anak yang menjadi korban grooming bisa mengalami berbagai tekanan batin. Korban mungkin bisa mengalami hal-hal berikut ini:
• merasa memiliki hubungan “spesial” dengan pelaku
• bingung tentang batasan hubungan yang dijalani
• menyalahkan diri sendiri atas pelecehan yang terjadi
• takut tidak dipercaya atau dihukum jika bercerita
• khawatir akan dipisahkan dari keluarga
• takut pengungkapan akan menyakiti orang-orang yang mereka cintai

Oleh karenanya, edukasi sejak dini menjadi kunci pencegahan grooming. Orang tua dan lingkungan perlu membangun komunikasi yang terbuka, tanpa rasa malu atau stigma.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua antara lain:
• mengedukasi anak tentang situasi aman dan tidak aman, termasuk mengenali reaksi alami tubuh saat merasa terancam
• membiasakan perilaku daring yang aman, seperti memblokir orang asing dan mengatur privasi
• memastikan anak tahu harus berbicara kepada siapa jika merasa tidak nyaman
• mengajarkan penolakan terhadap ajakan atau rayuan yang tidak pantas
• memahami batasan tubuh, hubungan yang sehat, dan konsep persetujuan
• menciptakan rasa aman agar anak berani bercerita

Itulah penjelasan lengkap terkait apa itu grooming, tanda-tanda hingga langkah antisipasi agar anak dan remaja tidak terkena grooming. Semoga informasi ini bermanfaat ya. 


Topik

Peristiwa aurelie moermans grooming broken string memoar broken string korban grooming



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madura Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya