Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Dari Rasa Minder ke Panggung Nasional, Mahasiswi UIN Malang Ini Buktikan Muslimah Bisa Tumbuh dan Berprestasi

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

30 - May - 2026, 19:45

Placeholder
Syafira Naylatur Rohmah, mahasiswi semester dua Program Studi Manajemen, berhasil menembus jajaran empat besar nasional dalam ajang Remaja Muslimah Indonesia 2026 (ist)

JATIMTIMES – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang. Syafira Naylatur Rohmah, mahasiswi semester dua Program Studi (Prodi) Manajemen, berhasil menembus jajaran empat besar nasional dalam ajang Remaja Muslimah Indonesia 2026. Pada kompetisi yang digelar di Lagoon Avenue Mall Sidoarjo pada 23 hingga 24 Mei 2026 tersebut, Syafira meraih gelar 3rd Runner-Up setelah melalui serangkaian seleksi dan karantina yang cukup ketat.

Pencapaian itu terasa istimewa karena diraih melalui perjalanan yang tidak mudah. Di balik penampilannya yang percaya diri di atas panggung, Syafira mengaku pernah diliputi keraguan untuk mendaftarkan diri. Ketika melihat calon peserta lain yang memiliki pengalaman dan sederet prestasi, rasa minder sempat membuatnya mempertanyakan kemampuannya sendiri.

1

Ketertarikan Syafira terhadap ajang Remaja Muslimah Indonesia sebenarnya telah muncul sejak masih duduk di bangku kelas XI SMA. Kecintaannya pada dunia public speaking dan pengembangan diri membuatnya tertarik pada kompetisi yang memberikan ruang bagi perempuan muda berhijab untuk berkembang tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai muslimah.

Baca Juga : Deretan Prestasi MAN 1 Kota Malang 2025-2026, Raih 170 Penghargaan dari Tingkat Kota hingga Internasional

"Saya memang suka kegiatan yang berhubungan dengan public speaking dan pengembangan diri. Saat melihat ajang ini saya merasa tertarik karena cocok untuk remaja muslimah yang ingin berkembang tanpa harus melepas hijab," ujarnya.

Meski demikian, keinginan untuk mengikuti kompetisi nasional itu tidak langsung diwujudkan. Syafira sempat merasa belum cukup layak bersaing. Namun, ia akhirnya memilih melawan keraguannya sendiri dan mencoba mengambil kesempatan yang ada.

"Saya mencoba fokus memberikan versi terbaik dari diri saya sendiri. Saya percaya setiap orang punya kelebihan masing-masing, jadi saya memilih mencoba daripada menyesal karena tidak berani memulai," katanya.

Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang yang harus dijalani. Syafira melewati berbagai tahapan seleksi mulai dari pengumpulan berkas, wawancara, tantangan media sosial hingga masa karantina. Setiap tahap memberikan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

Salah satu tantangan terbesar muncul ketika memasuki masa karantina. Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti ajang pageant, ia harus beradaptasi dengan berbagai materi yang sama sekali asing baginya. Mulai dari teknik berjalan di atas panggung, penggunaan heels tinggi, hingga membangun kepercayaan diri saat tampil di depan banyak orang.

"Yang paling menantang adalah bagaimana saya harus terus meyakinkan diri sendiri untuk belajar. Saya benar-benar mulai dari nol, termasuk belajar catwalk dan memakai heels tinggi," ungkapnya.

Selain dituntut menguasai berbagai keterampilan baru, Syafira juga harus menjaga kondisi fisik dan mental di tengah jadwal kegiatan yang padat. Pada saat yang sama, ia tetap menjalankan aktivitas sebagai mahasiswa, mengikuti kegiatan ma'had, organisasi kampus, serta berbagai agenda akademik lainnya.

Menurut Syafira, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen waktu dan kedisiplinan. Ia belajar memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkembang sekaligus menjaga komitmen terhadap tanggung jawab yang sudah dijalani.

Perjalanan kompetisi itu juga membuka kesempatan baginya untuk bertemu banyak perempuan muda inspiratif dari berbagai daerah di Indonesia. Interaksi selama karantina membuatnya memahami bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi, menghargai perbedaan, dan tetap menjadi diri sendiri.

"Walaupun kami datang dari daerah yang berbeda, suasananya tetap hangat dan saling mendukung. Saya belajar banyak tentang bagaimana bersikap, berbicara, membangun personal branding, tetapi tetap tidak kehilangan identitas sebagai remaja muslimah," jelasnya.

Puncak kompetisi menjadi momen yang tidak pernah dilupakan Syafira. Ia mengaku sama sekali tidak menargetkan posisi empat besar. Karena itu, ketika namanya diumumkan sebagai salah satu pemenang, perasaan haru dan syukur langsung bercampur menjadi satu.

Baca Juga : Heboh YouTuber AM Alami Lumpuh usai Pakai Whip Pink, Ini Sederet Bahayanya

"Saya benar-benar kaget dan tidak menyangka. Yang pertama saya pikirkan adalah semua proses latihan, perjuangan membagi waktu, dan dukungan penuh dari orang tua, keluarga, serta teman-teman," tuturnya.

Bagi Syafira, penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Lebih dari itu, ajang tersebut mengajarkannya bahwa penampilan fisik bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seorang peserta. Karakter, etika, dan akhlak justru menjadi fondasi utama yang harus dimiliki.

"Bukan siapa yang paling bersinar dari segi fisik atau penampilan, tapi bagaimana kita menjadi pribadi yang punya akhlak dan etika baik tanpa kehilangan jati diri sebagai remaja muslimah," katanya.

Pengalaman mengikuti kompetisi nasional itu kini mendorong Syafira untuk membawa kampanye yang lebih luas. Ia ingin mengajak remaja perempuan, khususnya muslimah, agar lebih percaya pada kemampuan diri sendiri dan tidak takut mencoba peluang baru.

Menurutnya, masih banyak perempuan muda yang sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi enggan melangkah karena takut gagal atau merasa tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Padahal, keberanian untuk memulai sering kali menjadi langkah terpenting dalam proses pengembangan diri.

"Saya ingin mengajak remaja perempuan untuk lebih berani berkembang dan mencoba hal baru. Jangan takut gagal, karena justru dari kegagalan kita bisa tumbuh menjadi lebih baik," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menjadi remaja muslimah di era modern bukan berarti membatasi ruang gerak atau mimpi yang ingin dicapai. Sebaliknya, muslimah harus mampu tampil sebagai pribadi yang cerdas, percaya diri, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

"Remaja muslimah harus bisa menjadi pribadi yang cerdas, percaya diri, dan membawa pengaruh positif bagi lingkungan sekitar," ungkapnya.

Melalui pencapaian yang diraihnya saat ini, Syafira berharap semakin banyak perempuan muda berani keluar dari zona nyaman dan mencoba kesempatan baru yang datang. Baginya, kesuksesan bukanlah tentang menjadi sempurna sejak awal, melainkan tentang keberanian untuk memulai dan konsisten menjalani proses.

"Tidak harus menunggu sempurna untuk memulai, karena semua orang belajar dari proses. Kadang pengalaman terbesar datang justru saat kita berani mengambil langkah pertama," pungkasnya.


Topik

Pendidikan uin maliki malang mahasis uin malang syafira naylatur rohmah remaja mulsimah indonesia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madura Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya