JATIMTIMES - Di sudut hiruk-pikuk Kota Malang, langkah pelan seorang perempuan paruh baya terus menyusuri jalan. Gerobak kayu sederhana yang ia dorong menjadi saksi perjalanan panjangnya mencari nafkah.
Perempuan ini bernama Fusia. Dia adalah penjaja jenang yang memilih tetap bekerja di usia senja, menantang lelah demi bertahan hidup. Setiap hari, Fusia berkeliling menjajakan jenang campur kuliner tradisional yang akrab di lidah masyarakat.
Baca Juga : Puluhan Konsumen dan Komunitas Stylo Sambut ‘Arjuno’ Pulang ke Malang
Rutenya tak berubah sejak dulu, melintasi kawasan pusat kota hingga area perkantoran. Di tengah lalu lintas yang padat, ia tetap setia menjalani rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Kalau capek, ya berhenti sebentar. Nanti lanjut lagi,” kata Fusia saat melayani pelanggan di halaman DPRD Kota Malang.
Di tengah keterbatasan fisik, Fusia menjalani aktivitasnya dengan penuh kesadaran. Ia tak memaksakan diri, namun juga tak ingin menyerah. Baginya, berjualan bukan sekadar mencari uang, melainkan cara untuk tetap hidup mandiri. “Yang penting cukup makan dan sehat,” kata Fusia, Kamis (9/4/2026).
Kalimat sederhana itu menjadi pegangan hidupnya. Ia tak mengejar keuntungan besar, apalagi kemewahan. Selama bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia sudah merasa cukup. Bahkan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, prinsip itu tetap ia pegang teguh.
Sebagai seorang ibu dan nenek, Fusia sebenarnya memiliki alasan untuk beristirahat. Namun ia memilih tetap bekerja. Ia tak ingin sepenuhnya bergantung pada keluarga, meski usia terus bertambah. “Kalau tidak jualan, ya tidak ada pemasukan,” imbuh Fusia lugas.
Hari-hari Fusia dihabiskan di jalan. Ia menyapa orang-orang yang ditemuinya, menawarkan jenang dengan senyum sederhana.
Baca Juga : WFH Berbasis Smart City, Pemkot Blitar Pastikan Layanan Tetap Optimal dan Respons Cepat
Sebagian pelanggan adalah langganan lama yang sudah mengenalnya sejak dulu. Mereka bukan hanya membeli, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. “Sudah biasa keliling seperti ini, dari dulu memang jualan,” ucapnya.
Meski zaman terus berubah dan jajanan modern semakin menjamur, Fusia tetap setia dengan gerobak dan jenang yang ia jual. Ia percaya, masih ada orang-orang yang merindukan rasa tradisional tersebut. “Masih ada yang cari jenang, walaupun tidak sebanyak dulu,” terang Fusia.
Di balik setiap langkahnya, tersimpan cerita tentang keteguhan dan kesederhanaan. Ia tidak mengeluh tentang usia, tidak juga meratapi keadaan. Justru, ia menjalani semuanya dengan sikap apa adanya.
“Yang penting bisa jalan, bisa kerja. Selama masih kuat, ya terus jualan,” tutup nenek tiga cucu ini.
