Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Ma’had Darul Hikmah MAN 1 Kota Malang Luncurkan Antologi Goresan yang Tak Sempat Terucap

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

11 - Feb - 2026, 17:10

Placeholder
“Goresan yang Tak Sempat Terucap” resmi diluncurkan, santri tuangkan emosi lewat tulisan (ist)

JATIMTIMES - Ketika banyak pelajar tenggelam dalam layar gawai, santri Ma’had Darul Hikmah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Malang justru meneguhkan pilihan berbeda, yakni mengabadikan rasa lewat tulisan. Belum lama ini, mereka meluncurkan buku antologi berjudul “Goresan yang Tak Sempat Terucap”, karya kolaboratif ustaz/ustazah dan para santri yang menjadi penanda konsistensi budaya literasi di lingkungan asrama.

Buku ini bukan terbitan sesaat. Ketua Ma’had Darul Hikmah, Dr. Syarifudin, M.Pd., menegaskan bahwa penerbitan antologi merupakan bagian dari program jangka panjang bertajuk satu semester satu buku. Program tersebut telah berjalan selama enam tahun terakhir.

Baca Juga : Haul Akbar Unisma, Mengikat Ulang Jejak Pendiri dalam Ingatan Kolektif

“Kami punya target satu semester satu buku. Alhamdulillah, ini sudah masuk tahun keenam. Yang ingin kami jaga adalah keistiqamahannya,” ujarnya.

2

Peluncuran buku dirangkai dengan penampilan drama dan lantunan lagu dari para santri. Suasana berlangsung hangat, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar seremoni. Buku ini menjadi ruang bagi santri untuk menuliskan hal-hal yang selama ini sulit mereka sampaikan secara lisan.

Judul “Goresan yang Tak Sempat Terucap” diusulkan oleh salah satu siswa, Nirendra La Nina Hadiyanto. Menurut Syarifudin, judul tersebut merefleksikan isi tulisan para santri yang banyak mengangkat rasa rindu kepada orang tua, lelah, kecewa, takut gagal, hingga ungkapan terima kasih kepada ustaz dan ustazah.

“Lewat tulisan, mereka bisa menyampaikan perasaan yang berat diucapkan. Dari sini saya melihat mereka belajar mengelola emosi, bukan melampiaskannya,” katanya.

Ia menilai proses menulis membentuk kematangan karakter. Santri belajar bergerak dari sikap reaktif menuju reflektif. Mereka diajak tetap menjaga adab saat mengekspresikan emosi, sekaligus menumbuhkan sikap tawadhu dan ikhlas.

“Emosi yang tidak terucap itu bukan kelemahan. Itu proses pendewasaan. Saya melihat ada ketahanan diri, kemampuan menyimpan luka tanpa kehilangan adab,” ungkapnya.

1

Di balik penerbitan buku ini, perjalanan literasi di ma’had tidak selalu mulus. Syarifudin mengakui sempat terjadi fluktuasi minat baca dan tulis, terutama sejak maraknya penggunaan AI dan media sosial. Sebagian santri lebih tertarik membaca status atau cerita singkat di gawai dibandingkan buku.

“Sempat ada penurunan minat. Tapi kami berusaha mempertahankan budaya literasi, minimal lewat majalah dinding dan penerbitan antologi dua kali setahun,” jelasnya.

Lingkungan asrama menjadi faktor pendukung. Santri berada di ma’had selama 24 jam dengan pendampingan ustaz dan ustazah. Pembatasan penggunaan ponsel turut memberi ruang bagi mereka untuk membaca. “Teori dasar menulis itu membaca. Kalau bacaan cukup, menulis jadi lebih terarah,” tambahnya.

Untuk mendukung kualitas karya, Ma’had Darul Hikmah memiliki bidang khusus kepenulisan bernama majal ta’lif. Bidang ini menyediakan pendampingan, bimbingan, hingga proses penyuntingan naskah. Setiap tahun, ma’had juga menghadirkan penulis dan sastrawan sebagai pemateri seminar dan pelatihan, di antaranya Dr. Halimi Zuhdi, M.Pd., MA., Ustaz Rifa’i Rif’an, serta Gus Dhofir.

Baca Juga : Raker Awal 2026, FIA UB Beber Capaian 2025 dan Beri Apresiasi Dosen-Tenaga Pendidik Berprestasi

“Kami ingin santri tidak takut salah dalam menulis. Dengan pendampingan dan contoh nyata dari penulis, mereka jadi lebih percaya diri,” ujar Syarifudin.

Dalam proses penyuntingan buku ini, ia bersama Ustazah Vina terlibat langsung. Tantangan terbesar justru datang dari rasa minder sebagian santri yang meragukan kualitas tulisannya. “Ada yang merasa tulisannya tidak layak, padahal bagus. Jadi kadang perlu dimotivasi lebih,” katanya.

Syarifudin menegaskan, proyek literasi ini bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari pembentukan peradaban. Menurutnya, ilmu yang hanya dihafal bisa saja hilang, tetapi tulisan akan menjadi jejak yang menetap.

“Peradaban dimulai dari menulis. Belajar dan hafalan bisa hilang, tapi menulis itu mengikatnya. Saya ingin kelak lahir ilmuwan yang juga penulis,” tegasnya.

Di lingkungan ma’had, literasi dipahami bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan membaca realitas dan memahami makna. Kebiasaan membaca Al-Qur’an, fiqih, tafsir, tarikh, sirah, dan karya ulama membentuk pemahaman keagamaan yang lebih mendalam.

“Santri yang literat cenderung lebih empatik, tidak mudah menghakimi, lebih santun dan bertanggung jawab secara sosial. Spiritualitas tidak berhenti pada ritual, tapi tercermin dalam akhlak,” jelasnya.

Program satu semester satu buku dipastikan akan terus berlanjut. Untuk penerbitan berikutnya, ma’had telah menyiapkan tema “Beginilah Rasanya Berdamai dengan Diri Sendiri.” Meski tema serupa telah beredar di pasaran, Syarifudin meyakini perspektif santri madrasah aliyah akan menghadirkan warna berbeda. “Setahu kami belum ada santri selevel MA yang menulis tema itu secara kolektif. Itu yang menjadi pembeda,” ujarnya.

Tim penulis antologi terdiri dari ustaz/ustazah dan para santri. Syarifudin berharap buku ini memicu semangat berlomba dalam kebaikan melalui tulisan.
“Semoga budaya literasi ini semakin mengakar dan menggeliat. Fastabiqul khairat dalam menulis,” pungkasnya.


Topik

Pendidikan Ma’had Darul Hikmah MAN 1 Kota Malang Antologi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Madura Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan