Tradisi Mudun Lemah Warga Osing Banyuwangi Masih Terjaga, Begini Ritualnya | Madura TIMES

Tradisi Mudun Lemah Warga Osing Banyuwangi Masih Terjaga, Begini Ritualnya

Feb 13, 2021 19:06
Pelaksanaan Tradisi Mudun Lemah Masyarakat Oesing kampung Dukuh desa/kecamatan  Glagah Banyuwangi Nurhadi Banyuwangi Jatim Times
Pelaksanaan Tradisi Mudun Lemah Masyarakat Oesing kampung Dukuh desa/kecamatan Glagah Banyuwangi Nurhadi Banyuwangi Jatim Times

BANYUWANGITIMES -  Tradisi mudun lemah (turun tanah) untuk menandai anak berusia 7 bulan bagi masyarakat Osing di Banyuwangi masih terjaga dengan baik. Pemandangan itu terlihat di Kampung Dukuh, Desa/Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (13/2/2021).

Pada pelaksanaan tradisi ini, juga didapati banyak suguhan di antaranya jenang lintang, suruh godhong nangka dan Gendhing Petek-Petek Suku.

Baca Juga : Pasca Banjir, PMI Jember Gelar Baksos Cek Kesehatan Warga dan Bagikan Sembako

 

Sanusi Marhaedi alias Kang Usik, Tokoh Masyarakat Osing setempat menjelaskan adanya jenang lintang dan ubo rampe atau sajen ritual, hingga suruh daun nangka mengandung makna masyarakat Kampung Dukuh, Desa Glagah siap menerima warisan budaya leluhur. Warisan leluhur ini memiliki nilai tinggi seperti bintang, siap menjaga dan melestarikan agar tidak punah di tengah serbuan budaya luar.

“Masyarakat kami guyub rukun dalam menjaga tradisi warisan leluhur agar tidak ada aral melintang dalam mengarungi kehidupan termasuk tradisi mudun lemah atau turun tanah bagi bayi yang berusia 7 bulan,” jelasnya.

Selanjutnya Kang Usik menuturkan dalam rangkaian acara tradisi masyarakat Osing anak yang berumur 7 bulan dinaikkan pada anak yang lebih besar atau menggambarkan naik kuda yang diiringi dengan gendhing sakral “Petek-petek suku” atau pijat-pijat kaki. Tahapan ini merupakan bentuk kearifan lokal dan kesadaran proses belajar sejak dini yang harus dilalui seorang anak yang membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupannya.

Menurut dia anak kecil akan melalui proses merangkak, berdiri, berjalan, berlari dan seterusnya. Kemudian diiringi dengan alunan musik angklung yang melantunkan gendhing “petek-petek suku”, yang intinya mengajarkan anak butuh dipijat agar tambah kuat.

Selain itu dalam gendhing sakral tersebut ada ajaran luhur yang perlu diikuti oleh anak-anak dalam hidup dan kehidupannya. Antara lain syair,”Ojo Siro Mlaku Ring Dalan Pinggir Nawi-nawi Siro Dicethol Ulo, Kesuk Ojo Siro Demen Omong Sembur-sembur gara-garai Wong Liyo Ngersulo,”yang intinya mengajarkan dalam bergaul orang jangan suka menyindir orang lain agar orang lain tidak sakit hati, imbuhnya.

Kemudian yang lain, imbuh Kang Usik, syair”Ojo Siro Lewat Ring Dalan Tengah Nawi-nawi siro Kesandung Beling, Ojo Siro Dadi Seneng Fitnah Garai Wong Liyo Muring, sebuah ajaran agar manusia jangan suka menebar fitnah yang  akan mengakibatkan orang lain marah.

Baca Juga : Peringati Hari Radio Sedunia, Kominfo Banyuwangi Apresiasi Radio Bintang Tenggara

 

Sementara Miskawi, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Banyuwangi, kegiatan tradisi mudun lemah yang dilaksanakan oleh warga merupakan salah satu bentuk upaya merawat atau uri-uri warisan budaya leluhur yang patut mendapatkan apresiasi.

Menurut dia banyak pesan moral yang disampaikan dalam tradisi mulai dari nilai-nilai sosial,  kerukunan kekompakan dan gotong royong masyarakat sekaligus perwujudan nilai-nilai Pancasila yang masih terjaga di masyarakat Osing.

“Pada dasarnya ritual ini tidak hanya turun tanah namun bagaimana mempersiapkan generasi agar memiliki tujuan yang dipersiapkan sejak anak usia berusia tujuh bulan. Ini merupakan cara merawat warisan tradisi budaya yang ada di wilayah Banyuwangi,” jelas Miskawi.

Topik
Berita Banyuwangi Suku Osing tradisi mudun lemah

Berita Lainnya