Gubernur Jatim, Kofifah Indar Parawangsa saat melihat pembangunan Pansela di Pantai Klathak (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Gubernur Jatim, Kofifah Indar Parawangsa saat melihat pembangunan Pansela di Pantai Klathak (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Meski sudah berproses lebih dari 10 tahun, pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) atau Jalur Pantai Selatan (Pansela) di seluruh wilayah Jawa Timur hingga kini belum rampung. Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa optimis jalur tersebut bisa menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.

Khofifah mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, agar pembangunan Pansela di Jatim bisa segera tersambung. Seperti penyambungan jalur lot 9 dan 10 di wilayah Lumajang. 

Baca Juga : UMKM Telak Dihajar Covid-19, Ekonomi Jatim Turun

“Kami sudah berkoordinasi dengan Bupati Lumajang, apakah nanti (di lot sepuluh) menggunakan jembatan atau (membelah) gunung, secara teknis masih disiapkan,” kata Khofifah.

Untut lot sembilan mulai dari Balekambang hingga Kedungsalam sepanjang 17,87 kilometer, saat ini masih berproses. 

Rencana tersebut disampaikan Khofifah saat meninjau pembangunan Jalur Pansela di Pantai Klathak, Tulungagung, Minggu (14/9/39). Didampingi Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, Khofifah menekankan bahwa Jalur Pansela merupakan salah satu proyek prioritas yang diharapkan mampu mendongkrak perekonomian di wilayah pesisir selatan Jawa Timur.

“Sehingga wilayah utara dan selatan harus tumbuh dan sama-sama majunya,” kata Khofifah.

Untuk menunjang itu, lanjutnya, pembangunan infrastruktur harus merata dan akses infrastruktur yang memadai. Sehingga, mampu menumbuhkan geliat ekonomi masyarakat.

“Apalagi nanti kalau Bandara Kediri sudah jadi, sektor wisata jadi daya tarik termasuk perekonomian masyarakat dengan infrastruktur yang memadai. Apakah itu tembakau, cokelat dan lain sebagainya,” ujarnya.

Khofifah meyakini konektivitas antar wilayah dengan infrastruktur yang memadai itu bisa menggenjot perekonomian di Jawa Timur. Harapannya pertumbuhan ekonomi tidak hanya berkutat di wilayah utara yang sudah lebih dulu mempunyai Jalur Pantai Utara (Pantura), tetapi juga di wilayah selatan.  

“Jadi saling menghubungkan sehingga pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur lebih baik,” pungkasnya.

Sementara itu Pelaksana Harian Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Timur-Bali, Sodeli menargetkan penyambungan jalur Pansela untuk wilayah Tulungagung-Blitar dan Tulungagung-Trenggalek akan rampung pada 2023 mendatang.  

Baca Juga : Gowes dengan Penyintas Covid-19, Cara Kekinian Gubernur Khofifah Sosialisasikan Perda Baru

Sedang untuk penyambungan seluruh Pansela di wilayah Jatim sepanjang 684 kilometer dari Pacitan ke Banyuwangi, ditargetkan selesai 5 tahun mendatang atau pada 2025.

“Jika tidak ada kendala, paling lama lima tahun mendatang selesai,” ujarnya ketika mendampingi Gubernur meninjau pembangunan Pansela di sekitar Pantai Klatak Tulungagung,

Pembangunan Jalur Pansela mulai dari Trenggalek hingga Blitar ditargetkan rampung 2023 mendatang. Pembangunannya terdiri dari dua lot, yaitu lot enam dan lot tujuh. Lot enam yaitu mulai dari Prigi batas Tulungagung Klatak hingga Brumbun sepanjang 17,78 kilometer, ditargetkan rampung April 2023.  

“(Sementara) lot tujuh (Brumbun ke Blitar) Oktober 2022 kami targetkan rampung, sehingga 2023 sudah tersambung,” kata Sodeli.

Selain fokus pada pembangunan, pihaknya tengah mempercepat proses pembebasan lahan di lot enam maupun di lot tujuh yang terdiri dari batas Kabupaten Tulungagung hingga Serang sampai batas Kabupaten Malang dengan panjang 12,85 kilometer. Pasalnya pembebasan lahan di sejumlah daerah saat ini masih berproses.  

“Tapi tidak banyak, misal di Tulungagung ada (pembebasan) sekitar dua kilometer. Sementara,(pengerjaan) Brumbun tembus Blitar tinggal 34 kilometer,” pungkasnya.