Kondisi Monas dengan adanya revitalisasi di era Anies Baswedan (IndonesiaKiniNews.com)
Kondisi Monas dengan adanya revitalisasi di era Anies Baswedan (IndonesiaKiniNews.com)

Revitalisasi Monumen Nasional atau Monas, di era Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ini bukanlah yang pertama dilakukan. Tapi, telah dilakukan berkali-kali oleh pemerintah sejak Monas dibangun di era Presiden Soeharto, 1973.

Di tahun 1995 lampau, revitalisasi Monas yang sejak awal dijadikan hutan di tengah kota DKI Jakarta, dengan 1.568 pohon di area Monas di tahun 1973, juga dilakukan. Tapi, seluruh proses revitalisasi itu tak ada satu pun yang mengganggu keberadaan ribuan pohon yang telah tumbuh puluhan tahun itu. Sebaliknya, penanaman pohon baru digalakkan dalam jumlah besar.

Tak ada seorang Gubernur DKI Jakarta yang berani melakukan penebangan ataupun pencabutan pepohonan di Monas. 
Hanya di era Anies lah, pepohonan itu pun dibabat atau dicabut dari tempatnya tumbuh untuk dipindahkan. Tak tanggung-tanggung, ada sebanyak 205 pohon di sisi selatan Monas telah dicabut dari tempatnya dan dipindahkan ke tempat lain di kawasan itu. Sontak saja Monas yang rindang dan teduh pun menjadi kerontang. 

Lahan di lokasi revitalisasi tampak gundul dan hanya tampak tanah merah, pagar besi dan beton-beton yang sedang dibangun.
Sontak saja, masyarakat pun kembali ramai memperbincangkan Anies. Seperti di beberapa bulan ke belakang, masyarakat sampai politisi terpecah dua dengan kebijakan-kebijakan Anies yang terbilang kontroversi.

Proyek yang memakai anggaran daerah Rp 149,9 miliar di tahun 2019 untuk revitalisasi Monas itu pun ramai sampai di dunia maya. Tagar #4niesHancurkanMonas pun menjadi trending topic Indonesia, dimana hampir rata-rata warganet mempertanyakan pencabutan 205 pohon yang terdiri dari 150 pohon ukuran besar dan 55 ukuran pohon kecil.

Akun @AnakLolina menuliskan unek-uneknya atas kebijakan Anies itu. "Percuma dikecam, buktinya tak ada yg didengarnya. Hanya @kemendagri yg bisa hukum dia tp pak Tito tampaknya diam saja. @aniesbaswedan ciptakan berbagai kerusakan, setelah terjadi musibah dia salahkan org lain,....#4niesHancurkanMonas," cuitnya, Selasa (21/1/2020).

Anies tak hanya mendapat cerca dengan kebijakan revitalisasi Monas dengan mencabut, warganet memilih redaksi menebang, membabat pepohonan yang jumlahnya masih 190. Juga dipertanyakan terkait proyek itu yang hanya untuk menyambut Formula E 2020, bukan untuk ruang terbuka hijau.

Hal ini disampaikan oleh Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi terkait kondisi Monas saat ini. "Rencana revitalisasi Monas yang diajukan Pemprov DKI ialah untuk Formula E 2020, bukan untuk ruang terbuka hijau. Kita tahu itu, tapi di hanggar bukan untuk tebang-tebang pohon begitu," ujarnya yang menegaskan akan memanggil pihak Pemprov terkait persoalan itu.

Pihak Pemprov melalui Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan DKI Jakarta Heru Hermawanto menolak adanya pernyataan itu. Dirinya menyampaikan, revitalisasi Monas sudah direncanakan jauh sebelum adanya rencana penyelenggaraan Formula E 2020 di Jakarta.

"Tidak ada hubungannya dengan Formula E. Rencana (revitalisasi Monas) ini kan 2018, sebelum Formula E," tegasnya.

Terkait ramainya perbincangan ratusan pohon ditebang, Heru juga mengatakan, untuk pelataran sisi selatan peruntukannya sejak dulu memang bukan untuk ditanami pohon. "Di dalam rancangan dulu yang pernah ditetapkan itu kan sebenarnya kayak plaza, cuma di dalam praktiknya ditanami pohon. Ini kita kembalikan lagi peruntukan areanya seperti desain awal. Pemprov DKI akan bangun plaza di areal itu," ujarnya yang melanjutkan, untuk mewujudkannya pepohonan harus ditebang.

"Nanti pohon-pohon itu akan dipindah ke area lain di kawasan Monas," tandas Heru.

<