Proyek Galian Gas Bumi, Dikeluhkan Rekanan Lokal | Madura TIMES

Proyek Galian Gas Bumi, Dikeluhkan Rekanan Lokal

Jul 10, 2018 17:44
Proyek galian pipa gas bumi di jalan Hayam Wuruk ini, ditutup kembali (Agus Salam/Jatim TIMES)
Proyek galian pipa gas bumi di jalan Hayam Wuruk ini, ditutup kembali (Agus Salam/Jatim TIMES)

Proyek galian pipa gas bumi di Kota Probolinggo dituding sebagai penyebab molornya pekerjaan sejumah proyek. Terutama proyek perbaikan jalan yang dilalui pipa gas dalam tanah tersebut, seperti di Jalan Hayam Wuruk, Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Proyek pekerjaan pengaspalan (Hot Mix) di jalan tersebut ditunda, akibat ada pekerjaan galian. Pengaspalan akan dimulai setelah penggalian selesai.

Hal tersebut diungkap Sofi, pemenang proyek pengaspalan jalan Hayam Wuruk, Selasa (10/) siang. Menurutnya, proyeknya ditunda karena terkendala proyek lain di lokasi yang sama. Dengan demikianan proyek yang dikerjakan saat ini, terpaksa ditunda hingga pekerjaan galian gas bumi selesai. Dampaknya, proyek molor akibat di satu lokais ada dua pekerjaan. Meski begitu Sofi tidak mempermasalahkan. Karena dipastikan, proyeknya selesai sesuai jadwal alias sebelum tanggal berakhirnya proyek.

Disebutkan, tumpang tindihnya proyek selain molornya pekerjaan, juga merugikan dirinya, meski tidak seberapa. Menurut Sofi, pihaknya sudah melekukan pekerjaan lapen (Lapisan Penetrasi Makadam) Yakni pekerjaan pemadatan dan pengerasan sebelum jalan dihotmix. Kendati pihaknya telah melakukan pekerjaan agrea gate sebagian jalan Hayam Wuruk, namun Sofi tidak mempermasalahkan. Mengingat pihak proyek galian gas sanggup mengembalikan jalan seperti sediakala.

Sofi mengaku, sempat bertemu dengan Pimpro galian pipa gas rumah tangga yang difsilitasi Dinas PUPR. Hasilnya, dari berbagai pertimbangan, Sofi merelakan proyeknya dikerjakan belakangan, yakni usai proyek galian. Hanya saja, ia meminta penggalian segera diselesaikan.

"Kami sudah bertemu. Jadi sudah tidak ada masalah. Kami mengalah. Lebih baik seperti itu. Kalau diaspal duluan, terus digalin kan kami yang rugi. Soalnya perawatan kan tanggungjawab kami," tandasnya.

Hal senada juga disampaikan Edi Susanto Project Meneger PT KSO, rekanan yang mengerjakan galian gas bumi. Pihaknya sudah bertemu dengan Sofi yang difsilitasi Dinas PUPR. Setelah ada kesepakatan, pekerjaan penggalian, langsung dikerjakan. Dan kewajiban mengembalikan bekas galian ke kondisi semula, menjadi tanggung jawabnya.

"Kewajiban kami, bekas galian bisa langsung dihotmix. Penggalian, kami kebut agar proyeknya pak Sofi selesai sebelum tenggal berakhir," jelas Edi di kantornya, Ruko di jalan Hayam Wuruk.

Dalam kesempatan itu, Edi S menyayangkan dua proyek berada di lokasi. Dalam waktu bersamaan. Mestinya, lanjut Edi, hal tersebut tidak terjadi. Karena pemkot sudah mengetahui, kalau tahun ini (2018) di lokasi tersebut ada proyek dari Kementrian ESDM (Energi Sumberdaya Mineral). Karena proyek yang ia kerjaan saat ini dirancang tahun sebelumnya yakni tahun 2017.

"Pasti pemkot tahu kalau di jalan Hayam Wuruk di 2018 ada proyek yang sedang kami kerjakan ini. Kalau sudah tahu, proyek pengaspalan kan bisa di lokasi lain," tambahnya.

Diengan begitu, utk tahun 2018 di jalan Hayam Wuruk, tidak ada proyek. Menurutnya, pengaspalan dijalan tersebut bisa dilaksanakan tahun berikutnya (2018). Namun demikian Edi tidak mempermasalahkan, karena permasalahan tempuk atau double pekerjaan disatu lokasi, sudah diselesaikan. Dan saat ini penggalian tanah disisi barat Jalan Hayam wuruk, sedang dilakukan.

"Jadi, begitu ada kesepahaman, langsung kami kerjakan," tambah Edi tanpa menyebut, kapan akan selesai proyek tersebut.

Saat ditanya mengapa galian di sisi barat Jalan Hayam Wuruk ditutup kembali setelah digali. Edi menyebut, hal tersebut kesalahan internal dalam perusahaannya. Diketahui, lahan di sisi barat Jalan Hayam Wuruk sekitar seratusan meter panjangnya ditutup kembali. Saat ditanya, pekerja tidak tahu. Ia hanya diminta untuk menutup lubang yang sudah digalinya. Semantara Edi Susanto menyebut, hanya kesalahan internal.

“Tidak ada masalah. Itu hanya kesalahan diinternal kembali,” jawabnya tanpa menyebut alasannya.

Mengenai rencana sentral pengaturan distribusi gas bumi ke rumah warga menempati lkahan milik pemkot di Kantor Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Edi mengaku, tidak mengetahui persis prosedurnya. Sebab, hal tersebut bukan kerwenangannya, tetapi kewenangan Kementrian ESDM. Dimungkinkan, antara Kementrian dengan pemkot sudah ada MoU.

“Mungkin sudah ada kesepahaman antara pemkot dan kementrian. Bentuknya, kemi tidak tahu. Kan bukan urusan kami,” tandasnya.

Dijelaskan, nantinya lahan di areal kantor kelurahan Jati tersebut akan dijadikan sentral distribusi gas bumi ke rumah warga. Edi belum mengatahui, apakah nantinya ada petugas jaga atau tidak. Karenanya, ia tidak mengatahui, apakah gedung di utara aula kantor kelurahan Jati dimanfaatkan atau ditempati petugas PGN (Perusahaan Gas Negara).

“Kami tidak tahu. Apakah bangunan atau gedung yang ada disana dibutuhkan atau tidak  Tugas kami hanya membangun sentral disana. Setelah proyek selesai, kami pulang,” pungkasnya.

Topik
Proyek Galian Gas Bumi pemkot dan kementrian

Berita Lainnya