Konflik Antar Santri, Akhirnya Saling Lapor Polisi | Madura TIMES

Konflik Antar Santri, Akhirnya Saling Lapor Polisi

Mar 24, 2018 12:39
Sebanyak 12 santri ikut mengantar pengaduan ke Polres Lumajang didampingi oleh Mahmud SH (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Sebanyak 12 santri ikut mengantar pengaduan ke Polres Lumajang didampingi oleh Mahmud SH (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Konflik antar santri di Pondok Pesantren Yahtadi Kedungjajang Lumajang, akhirnya bergulir ke Polres Lumajang. Dua belah pihak yang terlibat konflik fisik, akhirya saling lapor kepada pihak kepolisian.

Kejadian ini bermula ketika pada tanggal 19 November lalu, seorang santri berinisial F, menantang gelut seorang santri lainnya bernama AFM. Namun AFM menolak untukmelayani tantangan F. Sayangnya F tetap melakukan pemukulan bahkan AFM sampai pingsan, dan harus dilarikan ke Puskemas Kedungjajang.

Karena terlihat lemas dan tak kunjung sadar, pihak petugas Puskesmas Kedungjajang, kemudian merujuk ke RSU Dr. Hariyoto Lumajang. Namun belum sempat dibawa ke Rumah Sakit, AFM kemudian siuman, dan petugas Puskesmas menyarankan untuk dirawat jalan, dan AFM dipulangkan ke Pondok Pesantren.

Mendengar ada kejadian perselisihan antara santri, tiga santri yang ditugasi pondok pesantren sebagai petugas keamanan kemudian memanggil F, untuk dimintai keterangan.

Namun F menyangkal telah melakukan pemukulan. Petugas sekurity yang juga santri dari pondok pesantren tersebut akhirnya memukul F, hingga mengalami bengkak-bengkak dibagian muka.

Atas kejadian ini pihak Pondok Pesantren menanggil orang tua F karena kejadian ini. Orang tua F yang mengetahui kondisi anaknya, kemudian marah dan langsung mengajak anaknya pulang.

Tak berhenti disitu, orang tua F kemudian melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian. Pihak pesantren yang mencoba melakukan mediasi justru ditanggapi dengan permintaan ganti rugi dalam jumlah yang cukup besar yakni Rp 200 juta.

Karena pihak pesantren tidak mampu menyediakan jumlah yang diminta, maka kasus ini sekarang sedang dalam proses pihak kepolisian dan Polres sudah menetapkan tiga orang yang ditugasi sebagai sekurity pondok pesantren tersebut sebagai tersangka.

"Pihak pesantren dan sekurity kemudian meminta saya untuk untuk mendampingi ketiga tersangka dalam penyidikan di Polres Lumajang," kata Mahmud SH, yang menerima kuasa dari pihak Pondok Pesantren dan ketiga tersangka tersebut.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Mahmud SH adalah, membuat pengaduan kepada polisi, karena F juga diketahui melakukan penganiayaan kepada AFM sampai pingsan.

"Kalau persoalannya pemukulan di pesantren itu dianggap penganiayaan, maka apa yang dilakukan oleh F kepada AFM yang menjadi asal muasal masalah ini juga kita buatkan pengaduan. Pengaduan sudah saya serahkan kepada Kapolres Lumajang," kata Mahmud SH, usai menyerahkan surat pengaduan ke Polres Lumajang, pada hari ini Sabtu (23/3).

Mahmud SH, juga mengatakan bahwa pengaduan prilaku F yang melakukan pemukulan kepada AFM hingga pingsan juga harus diproses secara hukum. 

"Ini semua pelakunya dibawah umur. Saya harapkan ada jalan keluar yang baik dari kasus ini, karena sama-sama santri. Tap jika satu pihak tidak mau, maka saya meminta kepada polisi untuk juga menetapkan F sebagai tersangka atas penganiayaan yang dilakukan," kata Mahmud SH

Ketika menyerahkan pengaduan kepada polisi, sebanyak 11 santri lain juga hadir ke Polres Lumajang untuk menjadi saksi, karena 11 saksi tersebut juga pernah diperlakukan sama oleh F.

"Kita lihat saja hasilnya nanti, yang jelas pintu mediasi kami buka seluas-luasnya," kata Mahmud SH. 

Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Roy Aquary Prawirosatro membenarkan bahwa pihaknya telah memeriksa bebarapa orang dari kasus ini.

"Saya masih di luar kota mas, tapi memang benar kita memeriksa beberapa orang yang menjadi terlapor dalam kasus ini," kata AKP Roy Aquary Prawirosastro via sambungan ponselnya, dan mengaku sedang berada di Surabaya. 

Topik
Berita Lumajang Konflik Antar Santri Polres Lumajang

Berita Lainnya