Pungli Masih Marak, 2018 Harga Rumah Murah Naik 5,6 Persen | Madura TIMES

Pungli Masih Marak, 2018 Harga Rumah Murah Naik 5,6 Persen

Jan 02, 2018 08:58
Ilustrasi perumahan murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. (Foto: perumnas.co.id)
Ilustrasi perumahan murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. (Foto: perumnas.co.id)

Harga rumah di Malang Raya terus merangkak naik memasuki tahun 2018 ini. Termasuk rumah murah atau rumah dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Jika sebelumnya pada 2017 lalu dibanderol dengan harga Rp 123 juta per unit, tahun ini ada kenaikan sekitar 5,6 persen. Atau naik Rp 7 juta menjadi Rp 130 juta per unit.

Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jatim Koordinator Wilayah Malang Makhrus Sholeh mengungkapkan, naiknya harga tersebut disesuaikan dengan kenaikan komponen pembiayaan pembangunannya. Komponen harga tersebut di antaranya biaya resmi seperti kenaikan harga tanah dan bahan bangunan. Juga pengurusan izin dan dokumen.

"Juga masih ada biaya non-resmi," ujar Makhrus. "Beberapa oknum, mulai RT, RW, camat, lurah tidak sedikit yang masih meminta biaya tambahan," ungkapnya. Dirinya mengatakan, pihaknya masih belum bisa memberantas hal tersebut, meskipun sudah ada tim saber pungli (pungutan liar).

"Kalau tidak dikasih tidak selesai-selesai. Berantas biaya non resmi masih sulit," lanjutnya. Makhrus menerangkan, kendala lain pembangunan rumah murah dikarenakan harga tanah yang saat ini cukup tinggi. Selain itu, juga karena masalah perizinan.

Meskipun sudah dikeluarkan PP 64/2016 dan didukung paket kebijakan ekonomi Jokowi yang ke-13, pemerintah daerah rupanya masih banyak yang belum tahu.

"Harus perlu sosialisasi lagi. Sebelumnya ada 33 perizinan, sekarang tinggal 11 perizinan. Di lapangan belum banyak yang menjalankan," kata dia. Sementara itu, biaya perizinan sendiri saat ini juga terbilang masih tinggi, yakni sekitar 80 persen.

Menurut Makhrus, saat ini permintaan rumah murah terbilang banyak. Namun, stoknya masih kurang. Sehingga, realisasi kepemilikan rumah nampaknya masih terbilang minim. Di tahun 2017 ini, rumah yang terbangun baru 2000 unit.

Padahal, jumlah backlog (permintaan) di Malang Raya ada sekitar 15 ribu unit rumah. Secara jumlah mengalami peningkatan dibanding tahun lalu. Tahun ini, jumlah rumah murah yang terbangun sebanyak 2000 unit, sedangkan tahun lalu ada sekitar 1600 unit.

"Ada peningkatan, tapi tetap masih kurang untuk wilayah Malang," tuturnya. Dia berharap, pada 2018 ini, pembangunan rumah murah bisa mengalami peningkatan sebesar 20 persen. Di Malang Raya sendiri, jumlah pengembang rumah murah ada sekitar 20 pengembang. Sedangkan di Jatim ada sekitar 200 pengembang.

"Tentu harapannya meningkat, tapi yang utama ada perubahan soal perizinan dan pemberantasan biaya non-resmi itu," pungkasnya.

Topik
Kasus pungli Kota Malang harga rumah murah naik masyarakat berpenghasilan rendah apersi jatim

Berita Lainnya