Mengenal Sosok Komjen Tito, Calon Tunggal Kapolri | Madura TIMES
Kapolri Pilihan Jokowi

Mengenal Sosok Komjen Tito, Calon Tunggal Kapolri

Jun 15, 2016 15:42
Komisaris Jenderal Tito Karnavian. (Foto: news.metrotvnews)
Komisaris Jenderal Tito Karnavian. (Foto: news.metrotvnews)

Secara resmi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengajukan nama Komisaris Jenderal Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian RI ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Kini, nama Komjen Tito akan segera di bahas di DPR. Komjen Tito akan menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang akan memasuki masa pensiun pada 24 Juli mendatang. 

Lalu, seperti apa profil singkat Komjen Tito sang calon Kapolri pilihan Presiden Jokowi? Tito Karnavian lahir di Palembang 26 Oktober 1964.

Dia merupakan penerima bintang Adhi Makayasa atau lulusan terbaik Akademi Kepolisian 1987. Sejak menyandang pangkat perwira menengah Polri, Tito seperti ditasbihkan menjadi pengejar buronan polisi.

Pada Oktober 2000 silam, saat dia menjabat Kepala Satuan Reserse Umum Polda Metro Jaya, Tito memimpin pencarian buron kasus Badan Urusan Logistik (Bulog) Soewondo. Tito berhasil menangkap Soewondo setelah menjadi buron selama lima bulan.

Selanjutnya, setahun kemudian, Tito kembali mendapat tugas mengejar buron. Kali ini yang diburu adalah "Pangeran Cendana", Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang disangka terlibat penembakan hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Kasus itu terjadi pada Juli 2001. 

Tito juga pernah ditunjuk oleh Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sofjan Jacoeb untuk memimpin Tim Cobra yang beranggotakan 23 perwira polisi untuk memburu Tommy Soeharto. Di bawah komandonya, Tim Cobra berhasil menangkap Tommy Soeharto. 

Karir Tito memang tak diragukan lagi. Pada 2005, Saat Tito menjabat sebagai Kepala Kepolisian Resort Serang, mendapat tugas melacak gembong teroris Doktor Azahari.

Bahkan di saat yang sama, pada 7 November 2005, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri yang saat itu dijabat Komjen Makbul Padmanagara, meminta Tito terbang ke Poso, Sulawesi Tengah, untuk melacak pelaku pembunuhan mutilasi tiga orang siswa. 

Di tahun yang sama, doktor lulusan Nanyang Technological University Singapura itu, juga terlibat dalam menumpas gembong teroris Doktor Azahari di Malang, Jawa Timur. 

Atas prestasi yang disandang Tito, dia anugerahi kenaikan pangkat dari Ajun Komisaris Besar Polisi jadi Komisaris Besar Polisi. Tak selesai disitu, tugas Tito malah semakin berat. Dia bertugas sebagai 'sang pemburu' untuk konflik Poso, sejak 2006-2007.

Perjuangan Tito bersama Irjen Gorries Merre, Brigjen Bekto Suprapto dan Brigjen Suryadharma tak sia-sia. Mereka sukses membongkar konflik Poso. Sejumlah orang yang terlibat dan berada di balik konflik Poso berhasil ditangkap. 

Pada tahun 2009, Tito kembali tergabung dalam tim penumpasan jaringan terorisme pimpinan Noordin M Top. Sejak kasus Bom Bali I sampai sekarang menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Diketahui, Tito menghabiskan waktunya di Detasemen Khusus 88 Antiteror. Sebelum menjabat Kepala BNPT, Tito menjadi Kapolda Metro Jaya. 

Sejak Tito menjabat Kapolda Metro, terjadi serangan bom di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Berkat kesigapan Tito dan jajarannya, teroris yang belakangan diketahui sebagai jaringan ISIS, bisa dilumpuhkan dalam waktu 21 menit.

Masih teringat benak warga Jakarta, di bawah pengawalan Tito, relokasi kawasan merah Kalijodo yang dilakukan Gubernur Ahok berlangsung kondusif.

Presiden Jokowi kemudian mengangkat Tito sebagai Kepala BNPT pada 16 Maret 2016. Berkat perjuangannya yang terus cemerlang, pangkat Tito pun naik dari Inspektur Jenderal menjadi Komisaris Jenderal.

Berkahnya, nama Tito kini diajukan oleh Presiden Presiden Jokowi menjadi calon tunggal Kapolri. Nama Tiro sudah masuk DPR dan akan segera dibahasnya. Sejak nama Tito muncul banyak polisi dari berbagai partai politik menyetujuinya dan bahkan Tito memang layak jadi Kapolri. (*)

Topik
Jokowi Jenderal Tito Karnavian

Berita Lainnya