Sekitar 400 Jiwa di Kabupaten Malang Positif Kanker Serviks: 50 Persen Meninggal, Rentang Usia 30-69 Tahun
Reporter
Ashaq Lupito
Editor
A Yahya
09 - Apr - 2026, 05:02
JATIMTIMES - Sekitar 400 wanita di Kabupaten Malang dinyatakan positif mengidap kanker serviks. Sedangkan sekitar separuh di antaranya telah meninggal dunia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Titis Ari Respatilatsih menyebut, jumlah pengidap kanker serviks yang terdata hingga saat ini tersebut diperkirakan masih melebihi dari angka 400 jiwa.
Baca Juga : Lahan 400 Hektare di Tanjung Pecinan Mangaran Diduga Tak Dimanfaatkan Sejak 1997, Status Hukum Jadi Sorotan
Penyebabnya, karena tidak semua wanita dengan rentang usia yang bisa dilakukan deteksi dini kanker serviks melakukan skrining. Selain itu, juga banyak wanita yang mengeluhkan sakit namun tidak memeriksakan diri. Padahal sudah menunjukkan gejala kanker leher rahim atau serviks.
Sementara itu, pada Kamis (9/4/2026), pemerintah telah menggelar kegiatan advokasi perluasan implementasi deteksi dini kanker leher rahim dengan metode self sampling. Agenda tersebut berlangsung di Ruang Rapat Panji Pulang Jiwo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
"Sekitar 700 ribu itu sasaran usia yang bisa dilakukan deteksi dini kanker leher rahim. Tapi yang menderita itu, yang sudah positif itu, sekitar 400-500 (orang, red)," ujarnya saat ditemui disela-sela berlangsungnya kegiatan advokasi.
Data Dinkes Kabupaten Malang mengungkapkan, ratusan pengidap kanker serviks tersebut berasal dari usia-usia produktif. "Sekitar 400 itu rata-rata umurnya 30-69 tahun," imbuhnya.
Merujuk pada beberapa sumber, kanker serviks merupakan tumor ganas yang tumbuh di leher rahim atau bagian bawah rahim yang terhubung ke vagina. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi persisten virus Human Papillomavirus (HPV).
Penyakit kanker serviks diketahui berkembang lambat dan bahkan seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Sehingga tidak jarang penderitanya meninggal dunia lantaran terlambat memeriksakan diri.
Meski demikian, kanker serviks dapat dicegah dengan berbagai upaya. Di antaranya melalui vaksinasi HPV maupun deteksi dini seperti Pap smear atau tes IVA. "(Tingkat kematian, red) kanker serviks itu cukup tinggi," imbuh Titis.
Baca Juga : Kisah Fusia: Penjual Jenang di Malang, Tetap Dorong Gerobak di Usia Tua
Sementara di Kabupaten Malang, jumlah pengidap kanker serviks yang akhirnya meninggal ada separuhnya dari total sekitar 400 jiwa. "Ada sekitar 50 persen yang terkonfirmasi kasus (kanker serviks, red) itu meninggal," jelasnya.
Titis menyebut, penyebab utama dari penderita kanker serviks yang tak bisa disembuhkan tersebut lantaran beberapa faktor. Di mana, faktor utamanya ialah karena terlambat mendapatkan penanganan yang dilakukan oleh pasien pengidap kanker serviks.
"Sekitar 50 persen itu, meninggal setelah diobati. Penyebabnya karena banyak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah terlambat. Sehingga sudah stadium lanjut," ujarnya.
Meski tergolong penyakit ganas, namun, disampaikan Titis, kanker serviks bisa diobati. Yakni dengan catatan rutin melakukan pemeriksaan maupun deteksi dini sebelum mengidap kanker serviks.
"Kalau secara teratur melakukan pemeriksaan, deteksi dini misalnya setahun sekali. Begitu ketahuan kan masih dini, nah itu lebih mudah untuk dilakukan penanganan," pungkasnya.
